JAWABAN TERHADAP MEREKA YANG MAU KELUAR DARI AHLUS SUNNAH KARENA ADANYA PERPECAHAN ANTARA AHLUS SUNNAH [SEBUAH PELAJARAN DARI KISAH NYATA]

25 11 2012

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah membimbing para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk dapat mengetahui diantara sebab jauhnya manusia dari kebenaran dan semakin tersebarnya kebatilan adalah karena adanya perpecahan diantara Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dan hal itu diperparah dengan keberadaan pihak-pihak tertentu yang memang sengaja memicu, mengobarkan dan merawat perpecahan tersebut. Inilah beberapa peringatan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah di masa ini:

Syaikhunasy Syaikh Al-’Allamah Robi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah berkata,

 ونشأ أناس لا يفهمون السلفية على وجهها يزعم أحدهم أنه سلفي ثم لا تراه إلا وهو يقطع أوصال السلفية لسوء سلوكه وسوء المنهج أو المناهج السيئة التي انتشرت وتهدف إلى تفريق السلفيين وتمزيقهم

السلفية تحتاج إلى عقلاء تحتاج إلى رحماء تحتاج إلى حكماء تحتاج قبل ذلك إلى علماء فإذا كانت هذه الأمور ليست موجودة في السلفيين فأين تكون السلفية ؟ تضيع بارك الله فيكم

“Dan telah muncul (di tengah-tengah Salafiyin), orang-orang yang tidak memahami Salafiyah secara hakiki, tetapi setiap mereka menyangka bahwa ia seorang Salafi, kemudian engkau tidak melihatnya kecuali ia selalu memutuskan hubungan antara Salafiyin, karena kejelekan akhlaknya dan kejelekan manhajnya atau tersebarnya manhaj-manhaj yang jelek untuk memecah belah dan mencerai-beraikan Salafiyin.

Salafiyah membutuhkan orang-orang yang berakal, penyayang, memiliki hikmah, dan yang lebih penting, membutuhkan para ulama. Maka apabila perkara-perkara ini tidak ada di tengah-tengah Salafiyin, AKAN KE MANAKAH SALAFIYAH? AKAN HILANG. Semoga Allah ta’ala memberkahi kalian. [Transkrip Nasihat: Jagalah Persatuan dengan Akhlak Mulia]

Syaikhunasy Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi hafizhahullah berkata,

“Apa yang mereka lakukan ini telah mengakibatkan munculnya perkara yang sangat berbahaya dalam barisan umat yang satu; dalam barisan para pengikut manhaj yang satu:

  1. Mengakibatkan kepada saling dengki antara Ahlus Sunnah
  2. MENGAKIBATKAN TERHALANGNYA MANUSIA DARI DAKWAH AHLUS SUNNAH.
  3. Mengakibatkan jeleknya nama baik manhaj Salafi
  4. Mengakibatkan celaan dan hinaan terhadap sebagian orang-orang yang berlimu, yang memiliki jasa besar dalam berkhidmah terhadap As-Sunnah An-Nabawiyah
  5. Mengakibatkan perselisihan yang besar.

Dan jika engkau tanyakan tentang hakikat permasalahan yang sebenarnya maka tidaklah engkau dapati kecuali kegaduhan seperti penggilingan yang berputar, burung yang berkicau, omongan kosong dan sedikitnya rasa malu dari orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu, yang menyibukkan diri dalam memecah belah antara manusia.” [Transkrip Nasihat: Sebab-sebab Perpecahan Antara Ahlus Sunnah]

 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah berkata,

“Kecemburuan terhadap Islam tidaklah akan terealisasi dengan benar kecuali dengan kecemburuan terhadap para da’i pembawa Islam, sebab Islam tidak akan mungkin dikenal kecuali dengan para da’i tersebut. Maka membicarakan kejelekan para da’i tersebut menafikan kecemburuan yang benar.

Dan diantara prinsip Ahlus Sunnah adalah tidak mencela para sahabat dikarenakan adanya rekomendasi dari Allah dan Rasul-Nya untuk mereka. Demikian pula membicarakan kejelekan orang-orang yang berilmu, yang dikenal dengan kejujurannya pada umat, ketakwaannya dan ittiba’nya kepada minhaj nubuwwah.

Sesungguhnya Allah ta’ala telah men-ta’dil mereka secara umum, dan Allah jadikan mereka sebagai perantara untuk menyampaikan kebenaran dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dan Allah ta’ala menjadikan mereka sebagai hujjah atas manusia. Maka orang yang mencela mereka tidaklah dapat dikatakan sebagai orang yang cemburu terhadap Islam.

Bahkan yang pantas dikatakan kepadanya, bahwa sesungguhnya dengan celaannya kepada orang-orang yang berilmu maka dia telah mengundang peperangan Allah terhadap dirinya. Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6502)

Dan juga, MENCELA ORANG-ORANG YANG BERILMU BERARTI MEMBUKA PINTU UNTUK TIDAK DITERIMANYA ILMU MEREKA OLEH UMAT, DAN UMAT PUN TIDAK MERUJUK KEPADA MERAKA. Maka yang terjadi, kebatilan akan mendominasi kebenaran, tersebarlah hal itu di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga ahlul bid’ah pun semakin bebas menyebarkan kesesatannya.

Demikian pula, mencela kehormatan orang-orang yang berilmu terhadap sunnah adalah salah satu tanda besar dari tanda-tanda ahlul bid’ah dan hizbiyah. Maka barangsiapa yang menjatuhkan kehormatan orang-orang yang zhohirnya sunnah, minimalnya dia adalah orang yang menyerupai ahlul bid’ah dan hizbiyah.” [Al-Ibanah, hal. 160]

Subhaanallah, peringatan para ulama Ahlus Sunnah di atas, benar-benar telah kami saksikan dalam kehidupan nyata dalam beberapa kejadian baru-baru ini:

Pertama: Terjadi perselisihan salah seorang Ikhwan dengan Ustadznya, lalu si Ikhwan ini menceritakan (baca: ghibah) sebagian permasalahan tersebut kepada beberapa orang awam yang baru ngaji, yang sedang dibimbing oleh Ustadz tersebut. Pada akhirnya diantara mereka sudah berniat untuk keluar dari Salafi dan tidak mau lagi mengikuti kegiatan-kegiatan ta’lim ataupun menerima nasihat yang disampaikan oleh Ustadz tersebut.

Kedua: Seorang Ikhwan yang baru ngaji mengadukan kepada kami, bahwa istri beliau yang sedang didakwahi agar meninggalkan syirik dan bid’ahnya, serta menggunakan jilbab yang syar’i, ketika istrinya tersebut sudah mulai mengikuti ta’lim dan belajar menggunakan jilbab syar’i tiba-tiba kendor semangat belajarnya dan melepas jilbab syar’inya karena melihat adanya perpecahan antara sesama Ahlus Sunnah.

Ketiga: Bisikan-bisikan setan di hati kami, ketika dulu kami masih awam, kemudian terjerat ke dalam kelompok-kelompok hizbiyah, betapa indahnya ukhuwah, persatuan dan kebersamaan ketika itu, namun sayang di atas kesesatan.

Solusi permasalahan ini insya Allah ta’ala bisa diselesaikan dari dua sisi:

Pertama, dari sisi nasihat kepada Ahlus Sunnah untuk bersatu, kalaupun ada perpecahan hendaklah ditutup rapat-rapat dari mad’u (orang yang didakwahi), apalagi orang-orang awam. Walhamdulillah telah banyak nasihat-nasihat para ulama akan hal ini, meskipun di lapangan kita menyaksikan, masih banyak yang tidak peduli dengan adanya nasihat-nasihat tesebut.

Masih banyak yang sok berilmu, melangkahi para ulama, namun anehnya banyak juga pendukungnya dari kalangan orang-orang yang jahil, ketika dia mengeluarkan tulisan para pendukungnya pun segera menyebarkannya, dengan dalih nasihat terhadap orang-orang yang telah menyimpang, padahal tuduhan-tuduhan menyimpang itu hanyalah berasal dari kebodohan mereka.

Kedua, bagaimana kita menjawab dan menasihati orang-orang yang ingin lari dari dakwah Ahlus Sunnah bahkan meninggalkan sejumlah kewajiban dengan alasan karena Salafi berakhlak jelek, berpecah belah antara mereka?

Jawaban Pertama:

Benar bahwa perpecahan di antara Ahlus Sunnah sangat tercela, akan tetapi jika dilihat dari sisi lain, bisa jadi adanya perpecahan tersebut merupakan bukti kebenaran manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebab setan tidak mampu lagi mengajak Ahlus Sunnah untuk menyekutukan Allah ta’ala, terlalu sulit bagi setan untuk mengajak mereka melakukan bid’ah, teramat susah insya Allah ta’ala bagi setan untuk mengajak mereka berbuat maksiat, maka jalan yang paling mudah bagi setan adalah memecah belah mereka. Hal ini diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah (kaum muslimin) yang sholat di Jazirah Arab, akan tetapi dia belum putus asa untuk memecah belah di antara mereka.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

والتحريش الإغراء والمعنى أنه يجتهد في إفساد ما بينهم من التواصل ليقع التباغض

At-Tahrisy (memecah belah) adalah memanas-manasi, maknanya adalah, setan berusaha sekuatnya untuk merusak hubungan antara kaum muslimin sehingga mereka saling membenci.” [Kasyful Musykil min Hadits Ash-Shahihain, 1/752]

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,

وَمَعْنَاهُ : أَيِس أَنْ يَعْبُدهُ أَهْل جَزِيرَة الْعَرَب ، وَلَكِنَّهُ سَعَى فِي التَّحْرِيش بَيْنهمْ بِالْخُصُومَاتِ وَالشَّحْنَاء وَالْحُرُوب وَالْفِتَن وَنَحْوهَا

“Dan maknanya, setan telah putus asa untuk disembah penduduk (muslim) Jazirah Arab, akan tetapi dia tetap berusaha memecah belah kaum muslimin dengan permusuhan, kebencian, peperangan, fitnah, dan semisalnya.” [Syarah Muslim, 17/156]

Jawaban Kedua:

Manhaj Salaf yang kita ikuti adalah manhaj yang haq, yang tidak mungkin salah, sebab ia adalah ajaran Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, adapun pengikutnya mungkin benar dan mungkin salah. Allah ta’ala berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]

Ayat yang mulia ini menunjukkan dengan jelas kewajiban mengikuti Salaf, sebab generasi Salaf adalah generasi yang telah diridhoi Allah Ta’ala, maka jika kita menginginkan keridhoaan Allah, haruslah mengikuti jejak mereka. Demikian pula dalam ayat ini dikabarkan bahwa orang-orang yang mengikuti Salaf dengan baik (ihsan) mereka juga akan mendapatkan keridhoaan Allah, dan hal ini berlaku sampai akhir zaman. Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata,

ومعنى الذين اتبعوهم بإحسان : الذين اتبعوا السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار وهم المتأخرون عنهم من الصحابة فمن بعدهم إلى يوم القيامة

“Makna “Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,” adalah orang-orang yang mengikuti As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshor, dan mereka adalah sahabat-sahabat yang akhir dan generasi setelah mereka sampai hari kiamat.” [Fathul Qodir,2/577]

Maka yang kita ikuti adalah generasi Salaf secara keseluruhan yang ajarannya sudah pasti benar, sedangkan individu-individu yang mengikuti Salaf mungkin berbuat benar dan mungkin berbuat salah, karena dia adalah manusia biasa yang tidak mungkin selamat dari dosa, sehingga jika dia melakukan kesalahan maka yang disalahkan adalah orangnya bukan manhajnya, sebagaimana para teroris yang membunuh secara serampangan atas nama jihad maka yang disalahkan adalah orangnya bukan ajaran jihad dalam Islam ataupun agama Islam itu sendiri.

Oleh karena itu hendaklah kita mengikuti manhaj Salaf ini ikhlas karena Allah ta’ala, bukan karena manusia. Terlebih manusia yang kita ikuti masih hidup, meskipun seorang Ustadz atau Ulama, tetap saja tidak aman dari fitnah. Sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,

أَلاَ لاَ يُقَلِّدَنَّ رَجُلٌ رَجُلاً دِينَهُ فَإِنْ آمَنَ آمَنَ وَإِنْ كَفَرَ كَفَرَ فَإِنْ كَانَ مُقَلِّدًا لاَ مَحَالَةَ فَلْيُقَلِّدِ الْمَيِّتَ وَيَتْرُكِ الْحَىَّ فَإِنَّ الْحَىَّ لاَ تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ

“Janganlah seseorang taklid kepada yang lainnya dalam beragama, jika yang diikutinya beriman ia pun beriman, jika yang diikutinya kafir ia pun ikut kafir. Jika ia harus taklid maka hendaklah ia taklid kepada orang yang telah mati dan meninggalkan orang yang hidup, karena sesungguhnya orang yang hidup itu tidak aman dari fitnah.” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro: 20846]

Beliau radhiyallahu’anhu juga berpesan,

من كان منكم متأسيا فليتأسى بأصحاب رسول الله فإنهم كانوا أبر هذه الأمة قلوبا وأعمقها علما وأقلها تكلفا وأقومها هديا وأحسنها حالا قوم اختارهم الله لصحبة نبيه وإقامة دينه فاعرفوا لهم فضلهم واتبعوهم في آثارهم فإنهم كانوا على الهدى المستقيم

“Barangsiapa diantara kalian yang mau meneladani maka hendaklah meneladani sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, karena mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit membebani diri, paling lurus petunjuknya dan paling bagus keadaannya. Mereka adalah satu kaum yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” [Dzammut Ta’wil, hal. 32 no. 62]

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين





Antara Facebook, Syubhat, Fitnah, Ghibah dan Tergesa-gesa dalam Menghukumi

18 11 2012

 

 

Gambar

Oleh : Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Walaupun judulnya “berteman” bahkan “berlangganan” di FB, tetap saja TEMAN dunia maya tidak seperti TEMAN dunia nyata, buktinya lebih sering kita tidak betul-betul mengenal siapa teman kita di FB.

Kadang kita mengenal teman FB kita sebagai orang-orang yang BERADAB, MENJAGA LISAN dan TIDAK TERGESA-GESA dalam MENGHUKUMI, tidak suka GHIBAH dan tidak suka membahas FITNAH. Ternyata, ketika dia memiliki perselisihan atau perbedaan pendapat dengan kita maka dengan mudahnya dia menggibah dan menghukumi saudaranya: “Dikatakan “Ustadz” saja tidak bisa berdiskusi ilmiah”, “Memaksakan pendapat”, “Jumud”, “Gak salah muridnya pun demikian”, “Tidak konsekuen dengan ucapannya”, “Mantan da’i sesat”. Hanya sebagai permisalan, selain itu masih banyak kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang “teman”.

 

Padahal kalau mereka mau, betapa mudahnya mengirim pesan via inbox untuk menanyakan apa dasar sikap kita, ataupun menasihati secara tertutup jika memang mereka menganggap kita telah salah. Dan sering kali, diantara mereka, tentunya juga tidak senang jika ia melakukan kesalahan, lalu aib-aibnya diumbar secara murahan di FB, tetapi hendaklah dinasehati secara tertutup. Namun sayang, ketika mereka melihat kesalahan orang lain, mereka pun melakukan hal yang sama, jadi STANDAR GANDA.

 

Tidakkah mereka takut dari bahaya ghibah, ataukah dalil-dalil tentang bahaya ghibah hanya mereka arahkan kepada orang lain, tidak untuk diri mereka? Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu terdapat pada diri saudaraku?” Beliau bersabda, “Jika apa yang engkau katakan itu terdapat pada diri saudaramu maka engkau telah mengghibahinya, jika tidak maka engkau telah berdusta atasnya.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Ikhwani fid diin, takutlah kepada Allah ta’ala, bertakwalah kepada-Nya, dan realisasikan takutmu kepada Allah ta’ala dan takwa kepada-Nya dalam kehidupanmu sehari-hari, tidak terkecuali dalam tulisan-tulisanmu di internet, dan jangan sampai engkau pintar menasihati manusia untuk takut dan takwa kepada Allah ta’ala, namun engkau sendiri tidak mengamalkannya. Maka ketahuilah, membicarakan keburukan seorang muslim tanpa terpenuhi syarat-syarat dibolehkannya secara syar’i, hanya ada dua kemungkinan:

  1. Ghibah.
  2. Dusta.

Dan keduanya adalah kezaliman. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan bahaya kezaliman,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak (lagi) memiliki dinar dan harta”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari ummatku adalah seorang yang datang (menghadap Allah Ta’ala) pada hari kiamat dengan (membawa pahala) sholat, puasa, zakat, namun ketika di dunia dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan, memukul fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Maka jangan pernah engkau lupakan, setiap ucapanmu tentang saudaramu secara zalim akan menjadi bencana bagimu pada hari kiamat. Sebagaimana hadits ini juga menjadi hiburan bagi orang-orang yang dizalimi, baik dengan sikap maupun dengan kata-kata, semoga dosa-dosanya menjadi berkurang dan diampuni oleh Allah ta’ala.

Lihatlah bagaimana para ulama ketika berselisih dalam satu masalah, Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan pada biografi Al-Imam Ar-Rabbani Asy-Syafi’i rahimahullah dalam Siyar A’lam An-Nubala (10/16-17):

قال يونس الصدفي: ما رأيت أعقل من الشافعي، ناظرته يوما في مسألة، ثم افترقنا، ولقيني، فأخذ بيدي، ثم قال: يا أبا موسى، ألا يستقيم أن نكون إخوانا وإن لم نتفق في مسألة.

قلت: هذا يدل على كمال عقل هذا الامام، وفقه نفسه، فما زال النظراء يختلفون.

Yunus As-Shodafi berkata, aku tidak melihat orang yang lebih berakal dibanding Asy-Syafi’i, aku pernah berdiskusi dengannya dalam satu permasalahan, kemudian kami berpisah, dan ketika bertemu denganku, maka ia memegang tanganku, kemudian ia berkata, “Wahai Abu Musa, tidakkah bisa kita bersaudara meskipun kita berbeda pendapat dalam satu masalah?”

Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Ini menunjukkan sempurnanya akal imam ini dan pemahaman dirinya, sebab orang-orang yang berdiskusi itu tidak henti-hentinya berselisih.”

Jika kita tidak bisa mengikuti adab para imam ketika berselisih, paling tidak kita tidak berusaha untuk saling menjatuhkan antara satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, dengan adanya kemajuan sarana komunikasi dewasa ini, yaitu munculnya jejaring-jejaring sosial seperti FB dan semisalnya, membuat manusia semakin sulit menahan diri dan sulit menahan lisannya.

Dengan adanya kemudahan berekspresi melalui status FB, bukan hanya orang-orang awam, tidak sedikit penuntut ilmu, bahkan dianggap ustadz yang berbicara tanpa memikirkan akibat dari ucapannya tersebut. Padahal, sekali ia salah berbicara, maka akan sulit ditarik kembali, sebab dengan mudah ucapannya tersebut akan tersebar ke seluruh dunia melalui jaringan internet.

Tidakkah kita menyadari, bahwa setiap ucapan kita akan dimintai pertanggungjawabannya kelak pada hari kiamat. Allah ta’ala telah mengingatkan,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qoof: 18]

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengingatkan sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,

كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ قَالَثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قَالَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْإِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Jagalah olehmu ini (lisanmu).” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan diazab disebabkan apa yang kami ucapkan?” Beliau bersabda, “Celaka engkau wahai Mu’adz, tidaklah manusia itu diseret di neraka di atas wajah-wajah mereka, kecuali karena perbuatan lisan-lisan mereka.” [HR. At-Tirmidzi, no. 2616, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani]

Juga diantara bentuk ucapan yang berbahaya di internet, khususnya di FB adalah tersebarnya syubhat-syubhat yang menyamarkan kebenaran. Dan seorang muslim yang merasa dirinya lemah, tentunya ia tidak akan menyibukkan diri dengan membaca dan membantah syubhat-syubhat tersebut. Dan telah dimaklumi bersama bagaimana takutnya ulama Salaf ketika mendengarkan ucapan-ucapan yang dapat menyamarkan kebenaran yang telah mereka yakini.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah pada biografi Al-Imam Ar-Rabbani Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata dalam As-Siyar (7/261):

وعنه: من سمع ببدعة فلا يحكها لجلسائه، لا يلقها في قلوبهم.

قلت: أكثر أئمة السلف على هذا التحذير، يرون أن القلوب ضعيفة، والشبه خطافة.

“Dan dari beliau (Sufyan Ats-Tsauri) berkata, Barangsiapa mendengarkan satu bid’ah janganlah ia sampaikan kepada teman-teman duduknya, agar tidak masuk ke hati-hati mereka.”

Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Kebanyakan ulama Salaf memperingatkan perkara ini, karena mereka menganggap hati itu lemah, sedang syubhat menyambar-nyambar.”

Berikut beberapa mutiara dari Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur (hal. 36-37) :

“Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu mendatangi Ibnu Sirin seraya berkata, “Wahai Abu Bakr, bolehkah kami menyampaikan satu hadits kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak.” Keduanya berkata lagi: Kalau begitu kami bacakan satu ayat Al-Qur’an kepadamu?”  Beliau menjawab, “Tidak, kalian pergi dari sini atau saya yang pergi”. Lalu keduanya pun keluar. Sebagian orang berkata, “Wahai Abu Bakr, mengapa engkau tidak mau mereka membacakan ayat Al-Qur’an kepadamu?”  Beliau menjawab, “Sungguh saya khawatir mereka bacakan kepadaku satu ayat lalu mereka selewengkan maknanya sehingga tertanam dalam hatiku.” [HR. Ad Darimy (1/120/no. 397)]

Sallam –rahimahullah– berkata, “Seorang pengikut kesesatan berkata kepada Ayyub“Saya ingin bertanya kepadamu tentang satu kalimat?” Maka Ayyub segera berpaling dan berkata, “Tidak, meski setengah kalimat, meski setengah kalimat” Beliau mengisyaratkan jarinya.” [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/447 no. 402), Al-Lalika’iy dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (1/143/no. 291), Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah (1/138/no. 101), dan Ad Darimy dalam Sunan-nya (1/121 no. 398)]

Al Fudlail bin Iyyadh rahimahullah berkata, “Jauhilah olehmu duduk dengan orang yang dapat merusak hatimu dan janganlah engkau duduk bersama pengekor hawa nafsu (ahli bid’ah) karena sungguh saya khawatir kamu terkena murka Allah.” [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/462-463 no. 451-452), dan Al-Lalika’iy dalam Syarhul Ushul (262)]

Perhatikanlah, bagaimana rasa takut para imam Salaf terhadap bahaya syubhat. Maka janganlah engkau remehkan hal ini, dan janganlah engkau mengejek saudaramu yang berusaha menjaga hatinya dari kesesatan. Kalau engkau merasa dirimu kuat dalam menghadapi syubhat, mungkin saudaramu merasa ia tidak kuat sepertimu. Jangan paksakan dirinya menjadi sepertimu.

Oleh karena itu, bukanlah sikap ekstrim jika ada seorang muslim yang membatasi pertemanannya di FB hanya dengan orang-orang yang ia kenal sebagai seorang Ahlus Sunnah, atau tidak berteman dengan para penebar syubhat, atau minimal tidak berusaha membaca syubhat-syubhat mereka.

Sebagaimana juga, bukanlah sesuatu yang berlebihan jika ia menghapus komentar-komentar di dinding FBnya yang menurutnya mengandung syubhat yang dapat membahayakannya ataupun membahayakan kaum muslimin yang membacanya.

Dan terkadang, sesuatu yang kita anggap sebagai kebenaran, namun ternyata di baliknya mengandung kebatilan, sehingga komentar kita pada akhirnya dihapus oleh saudara kita. Di sinilah dibutuhkan kesabaran untuk meminta penjelasan dengan penuh adab terhadap saudara kita, dan janganlah kita terburu-buru mengghibahi dan menghukumi saudara kita. Dan kesabaran dalam menghargai pendapat saudara kita yang menganggap itu sebagai syubhat yang harus dihapus. Janganlah kita hanya selalu menuntut orang untuk tidak memaksakan pendapat, sementara kita sendiri memaksakan pendapat kepada orang lain.

Adapun jika seorang mengatakan: Kalau memang komentar tersebut mengandung kebatilan atau syubhat mengapa tidak dibantah dan tidak didiskusikan secara ilmiah? Apa tidak mampu berdiskusi secara ilmiah? Hanya memaksakan pendapat? Bersikap jumud? Tidak konsekuen?

Maka kami jawab: Yaa Akhi jangan terburu-buru, berilah udzur kepada saudaramu. Mungkin saudaramu masih dalam keadaan sibuk sehingga dia belum sempat membantah atau mendiskusikannya. Apalagi jika bantahannya membutuhkan pembahasan ilmiah, dengan mengumpulkan ucapan-ucapan para ulama dalam masalah tersebut, sehingga membutuhkan waktu yang tidak singkat, sementara di satu sisi ia memandang bahwa komentar tersebut adalah kebatilan atau syubhat, maka wajar kalau ia menghapusnya. Janganlah Anda memaksakan pendapat Anda bahwa komentar Anda harus tetap ada, tidak boleh dihapus.

Terlebih jika komentar tersebut ditulis di FB yang tidak memiliki fasilitas moderasi seperti di blog, maka tidak ada jalan kecuali menghapusnya. Dan terlebih lagi jika saudaramu memiliki kesibukan yang jauh lebih penting dan lebih besar maslahatnya dibanding menanggapi setiap syubhat di internet, seperti kesibukan membina orang-orang awam dan para mu’allaf di dunia nyata untuk mengenal tauhid dan sunnah serta memerangi kesyirikan dan kristenisasi, namun di tengah-tengah kesibukannya tersebut, ternyata Anda menikamnya dari belakang dengan ghibah yang Anda sebarkan dan ketergesa-gesaan Anda dalam menghukuminya. Allahul Musta’an.

Dan juga yang tidak kalah penting untuk dicermati, adalah “kebebasan berekspresi” mengungkapkan isi hati tentang fitnah perpecahan antara Ahlus Sunnah di internet, khususnya di FB. Setiap orang berani berbicara tanpa memperhatikan kadar dirinya, nasihat-nasihat ulama dalam menyikapi fitnah hampir-hampir tidak berharga di sisi mereka, berbicara tanpa ilmu dan adab, melanggar kehormatan orang-orang mulia.

Pada akhirnya, fitnah semakin berkobar, pertikaian semakin meluas, dari dunia maya hingga dunia nyata, yang terjadi di dunia nyata segera berpindah ke dunia maya, kemudian tersebar ke seluruh dunia, dalam keadaan mereka menyangka sedang melakukan perbaikan. Inna liLlahi wa inna ilaihi roji’un.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ وَلَمَنِ ابْتُلِىَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah, sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah, sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah (tiga kali beliau menyebutkannya), dan orang yang jika ia tertimpa fitnah maka ia bersabar, sungguh mengagumkan.” [HR. Abu Daud, no. 4263 dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu’anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani]

WaLlahu A’la wa A’lam. 

sumber : http://nasihatonline.wordpress.com/2012/10/23/antara-facebook-syubhat-fitnah-ghibah-dan-tergesa-gesa-dalam-menghukumi/

 





Hakikat Hati Manusia

18 11 2012

Sesuatu yang paling mulia pada manusia adalah hati. Karena sesungguhnya hatilah yang mengetahui Allah Subhanahu wa ta’alla, yang beramal untuk-Nya, dan yang berusaha menuju kepada-Nya. Anggota badan hanya menjadi pengikut dan pembantu hati, layaknya seorang budak yang membantu raja. Barangsiapa mengetahui hakekat hatinya, ia akan mengetahui hakekat Rabb-Nya. Namun mayoritas manusia tidak mengetahui hati dan jiwanya.
Ketahuilah, bahwa hati, pada tabiat fitrahnya, mau menerima petunjuk. Tapi tetap ada syahwat dan hawa nafsu yang melekat padanya di mana hati juga akan cenderung kepadanya.

Di sana, akan saling mengusir antara malaikat dan setan, terus berlangsung sampai hati itu membuka untuk salah satunya dan akhirnya menetap padanya. Sehingga pihak kedua tidak melewati hati itu kecuali sembunyi-sembunyi. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’alla:

“Dari kejahatan bisikan-bisikan yang tersembunyi”.
Yaitu yang jika disebut Allah I ia sembunyi, tapi kalau lalai ia merasa lega. Dan tidak ada yang mengusir setan dari hati kecuali dzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’alla.

Setan tidak akan tentram bersama dzikir.
Ketahuilah, permisalan hati seperti sebuah benteng, sedang setan adalah musuh yang hendak memasuki benteng itu lalu menguasainya. Tidak mungkin benteng itu terjaga kecuali dengan menjaga pintu-pintunya. Dan orang yang tidak mengetahuinya tidak mungkin mampu menjaganya, begitu pula tidak mungkin menghalangi setan kecuali dengan mengetahui jalan masuknya.
Jalan-jalan masuk setan banyak jumlahnya, di antaranya hasad (dengki), ambisi duniawi, marah, syahwat, cinta berhias, kenyang, tamak, terburu-buru, cinta harta, fanatik madzhab, berpikir sesuatu yang tidak dicapai akal, buruk sangka dengan kaum muslimin, dan lain-lain.
Seyogyanya seorang manusia menjaga dirinya dari sesuatu yang akan menjadikan orang berprasangka buruk kepadanya. Untuk mengobati kerusakan-kerusakan ini adalah dengan menutup pintu-pintu setan tersebut dengan membersihkan hati dan sifat-sifat jelek itu sehingga dengan bersihnya hati dari sifat-sifat itu berarti setan-setan hanya bisa lewat, tidak bisa menetap padanya. Untuk menghalangi lewatnya cukup dengan berdzikir kepada Allah I dan memenuhi hati dengan takwa.
Perumpamaan setan itu seperti anjing lapar yang mendekatimu. Kalau kamu tidak punya makanan dia akan pergi hanya diusir dengan kata-kata. Tapi kalau kamu punya makanan sedangkan dia lapar, dia tidak akan pergi hanya dengan ucapan. Begitupula hati yang tidak memiliki makanan untuk setan, setan itu akan pergi hanya dengan dzikir.
Sebaliknya hati yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, dia menjadikan dzikir itu hanya sambilan sehingga tidak mapan di tengahnya. Maka setanlah yang akhirnya menetap di tengahnya.
Jika kamu ingin tahu kebenarannya, perhatikan yang demikian ini pada shalatmu. Lihatlah bagaimana setan mengajak bincang-bincang dengan hatimu di saat semacam ini, dengan mengingatkan pasar, penghasilan/ gaji , urusan dunia, dan lain-lain.
Wallahu ta’ala a’lam.

(Diterjemahkan dan diringkas dari Mukhtasar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah hal. 193-195 oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi)